Sebelum kita membincangkan tentang hak asasi wanita, kita harus memahami erti hak asasi manusia. Istilah hak memiliki banyak erti. Hak dapat diertikan sebagai sesuatu yang benar, kewenangan, kekuasaan
untuk berbuat sesuatu, atau kekuasaan yang benar atas sesuatu atau untuk
menuntut sesuatu. Sedangkan asasi bererti bersifat dasar, pokok, fundamental. Hak asasi manusia pula bermaksud hak yang bersifat dasar atau hak pokok yang dimiliki
oleh manusia, seperti hak hidup, hak berbicara dan hak mendapat perlindungan. Oleh sebab sifatnya yang dasar dan pokok ini, maka hak asasi manusia sering
dianggap sebagai hak yang tidak dapat dicabut atau dihilangkan. Dengan kata
lain, hak asasi manusia perlu mendapat jaminan oleh negara atau pemerintah,
maka siapa saja yang melanggarnya.
Hak Asasi Manusia adalah
seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati,
dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah dan setiap
orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia (Pasal 1
ayat 1 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang
Pengadilan HAM).
Bagi orang yang beragama
dan meyakini bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan, maka hak asasi manusia adalah
hak yang melekat pada diri manusia dan merupakan hak yang diberikan sebagai kurnia
Tuhan. Semua hak asasi manusia itu berasal dari Tuhan, maka tidak
diperbolehkan ada pihak lain termasuk manusia kecuali Tuhan sendiri yang
mencabutnya. UU RI No. 39 tahun 1999
tentang hak asasi manusia merumuskan bahwa hak asasi manusia adalah seperangkat
hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang
Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan
dilindungi oleh negara, hukum dan pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan
serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
Pada umumnya, ada sejumlah
hak yang tidak dapat dicabut atau dihilangkan, seperti kebebasan berbicara dan
berpendapat, kebebasan beragama dan berkeyakinan, kebebasan berserikat, dan hak
untuk mendapatkan perlindungan yang sama di depan hukum.Pengingkaran terhadap
hak asasi manusia berarti mengingkari martabat kemanusiaan. Oleh kerana itu,
negara, hukum, pemerintah dan setiap orang mengemban kewajiban untuk mengakui
dan melindungi hak asasi manusia pada setiap manusia tanpa kecuali. Ini bererti
bahwa hak asasi manusia harus selalu menjadi titik tolak dan tujuan dalam
penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

No comments:
Post a Comment